Oleh : RD. Andre Jericho Alo
Homili Hari Minggu Biasa XXV; 20 September 2026; Bac: Yes. 55:6-9; Flp. 1:20-24,27; Mat. 20:1-16
Para beriman terkasih dalam Kristus Yesus,
Ada sebuah kisah tentang pengalaman rohani Santo Thomas Aquinas—salah satu tokoh terbesar dalam teologi dan filsafat Katolik. Karena kejernihan dan kedalaman pemikirannya tentang iman Katolik, ia diberi gelar Pujangga Gereja dan bahkan Pujangga Malaikat “Doctor Angelicus”. Pada suatu malam, Santo Thomas Aquinas berdoa di depan salib. Dalam keheningan kapel pribadinya, ia merasakan kehadiran Tuhan begitu dekat. Waktu seolah terhenti. Lalu terdengar suara lembut menembus jiwa. Yesus yang tersalib berkata kepadanya: “Thomas, anak-Ku, engkau telah menulis dengan baik tentang Aku. Apa yang engkau mau sebagai hadiah dari-Ku?”
Di saat seperti itu, banyak dari kita mungkin berpikir: pasti ia akan meminta banyak hal—kesehatan, rezeki, keberhasilan, atau bahkan pengakuan. Namun, semua itu keliru. Justru dalam perjumpaan yang penuh rahmat itu, Santo Thomas Aquinas, dengan penuh keyakinan dan kerendahan hati, menjawab: “Non nisi te, Domine.” (Tidak ada selain Engkau, ya Tuhan)
Jawaban ini bukan sekadar kata-kata indah. Ini adalah pernyataan hati yang telah belajar mencintai Allah di atas segala-galanya. Bagi Thomas, tidak ada harta, tidak ada pujian, tidak ada pencapaian yang lebih berharga daripada Allah sendiri. “Non nisi te, Domine.” Kalimat itu pendek, namun di dalamnya tersimpan seluruh kerinduan sejati semua umat manusia : bahwa hanya Allah yang cukup, hanya Allah yang mengisi, hanya Allah yang membuat hidup ini berarti.
Karena Allah begitu berarti dalam hidup, maka tidaklah heran; kepada umat pilihan Allah yang berada dalam derita pembuangan di Babel, Nabi Yesaya dengan suara lantang berseru : “Carilah Tuhan selagi Ia berkenan ditemukan…!” (Yes 55:6).
Sang Nabi mencoba untuk mengajak sekaligus meyakinkan umat pilihan yang yang punya banyak harapan dan kerinduan, kalau Allah jauh lebih penting dan lebih besar dari segalanya—bahkan melampaui segala penderitaan hidup manusia. Maka carilah Ia, dan miliki Ia dalam hati dan hidupmu, niscaya, hidupmu akan bahagian selamanya. Namun untuk menjawabi harapan dan kerinduan itu, ada sebuah syarat yang paling sederhana namun tak mudah untuk dilaksanakan bila hanya mengandalkan kemampuan manusiawi kita. Sabda-Nya “Jalan-Ku bukanlah jalanmu, rancangan-Ku bukanlah rancanganmu” (dalam Yes.55:8), menunjukkan bahwa manusia harus mampu meninggalkan jalan duniawinya yang penuh keterbatasan dan keberdosaan, dan beralih ke jalan rohani ilahi yang murni dan kudus.
Saudara terkasih, satu hal yang harus kita sadari bahwa : logika jalan Ilahi, bukan logika hitung-hitungan manusiawi kita. Dalam perumpamaan tentang pekerja kebun anggur, yang dikisahkan dalam injil Matius 20:1-16, Yesus menceritakan bagaimana seorang tuan tanah mempekerjakan orang pada pagi hari, siang hari, bahkan sore hari—namun membayar mereka semua dengan upah yang sama. Mereka yang bekerja seharian penuh, merasa itu tidak adil. Mereka menghitung, membandingkan, dan menuntut lebih. Tetapi apa jawab tuan itu? “Aku tidak berbuat tidak adil terhadapmu” (Bdk. Mat. 20:13)
Saudara terkasih, mengimani Kristus dengan tulus dan mendalam, adalah sebuah berkat terindah yang kita miliki dalam hidup ini. Dalam iman akan kristus, kita semua mengalami belas kasih Allah yang sama. Ketahuilah bahwa Allah tidak memberi berkat berdasarkan prestasi kita, atau status kita, baik di lingkungan gereja maupun di lingkungan sosial kemsyarakatan; tetapi berdasarkan belas kasih kebaikan-Nya; itulah yang harus kita syukuri bersama. Dan ketahuilah bahwa Rahmat atau berkat-Nya bukanlah upah yang harus kita raih, melainkan Diri-Nya sendiri; itulah yang harus kita cari dan miliki dalam hati kita masing-masing.
Saudara terkasih, Yesus-lah hadiah terindah dari Tuhan bagi kita. Pengorbanan-Nya di salib, telah membayar mahal segala hutang dosa kita yang tak mampu kita lunasi. Dia sungguh melampaui segala berkat duniawi yang ada; sebab Dialah sumber berkat itu sendiri.
Banyak dari kita yang datang kepada-Nya dengan tangan terbuka meminta berkat. Itu baik dan manusiawi. Tetapi kita lupa bahwa sesungguhnya Tuhan mengundang kita untuk membuka hati menerima-Nya, bukan hanya membuka tangan meminta berkat. Ia tidak mau sekadar menjadi Pemberi berkat dalam hidup kita; tetapi Ia mau memberi Diri-Nya sendiri pada kita.
Karena pada akhirnya, berkat terbesar bukanlah pada apa yang Tuhan beri, melainkan pada Tuhan sendiri yang menyerahkan diri-Nya bagi kita. Jika hingga saat ini kita masih membuka tangan memohon berkat lebih, dan tidak pernah membuka Hati untuk Tuhan, maka sadarlah, secara rohani, kita sedang mengalami disorentasi dalam hidup beriman, dimana bukan Yesus yang kita cari, tetapi hanya berkat-Nya. Ini berarti kita sedang merubah cara beriman kita menjadi iman yang transaksional, yakni iman yang berdasarkan pada transaksi dan bukan pada relasi kasih. Tuhan hanya dijadikan sebagai alat, dan bukan tujuan hidup. Orang akan mencari-Nya kalau ia butuh sesuatu atau disaat ia susah, sedangkan disaat ada sukacita atau saat normal, ia tidak mencari Tuhan dan bersyukur. Ingat seruan Nabi Yesaya “Carilah Tuhan selagi Ia dekat”, bukan “Carilah berkat-Nya ”.
Mungkin diantara kita ada yang pernah memprotes Tuhan dalam hatinya : “mengapa, saya yang rajin doa dan ke Gereja, berkatnya kurang, sedangkan orang lain yang doanya senin-kamis, bahkan jarang ke Gereja, hidupnya berlimpah”. Saudara, Soal berkat, itu bukan urusan manusia, itu adalah haknya Tuhan. Dan berkat yang paling luhur dan mulia adalah belas kasih pengorbann-Nya sendiri. Inilah upah yang amat mahal dan paling berharga dalam hidup kita.
Orang yang memiliki banyak berkat duniawi, belum tentu memiliki Tuhan dalam hatinya, sebaliknya, orang yang dalam hatinya hanya ada Tuhan, akan selalau ada dalam belas kasih-Nya. Akan selalu ada bantuan itu datang secara tak terduga dalam hidupnya disaat ia kesusahan. Saya yakin, banyak kita yang pernah mengalaminya. “Sebab itu janganlah kamu kuatir dan berkata: Apakah yang akan kami makan? Apakah yang akan kami minum? Apakah yang akan kami pakai? Semua itu dicari bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah. Akan tetapi Bapamu yang di sorga tahu, bahwa kamu memerlukan semuanya itu. Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu (Mat.6:31-33).
Saudara terkasih.
Kita ingat kata Rasul Paulus saat di dalam penjara dan siap menghadapi kemungkinan kematiannya, ia menulis dengan penuh keyakinan dalam suratnya kepada jemaat di Filipi : “Bagiku hidup adalah Kristus, dan mati adalah keuntungan.” (Flp 1:21). Inilah citra orang kristiani yang sejati yang berjuang bukan sebatas membuka tangan meminta berkat, tetapi lebih dari pada itu, membuka hati menerima Kristus dan bersatu dengan-Nya selamanya.
Bagi orang Kristiani sejati, dalam hidup dan matinya, disaat susah ataupun senang, diwaktu sehat ataupun sakit, dalam untung dan malang, Tuhan Yesus tetap harga mati.
Untuk itu ingatlah selalu : “jangan hanya membuka tanganmu untuk meminta berkat, tetapi bukalah juga hatimu untuk menerima Tuhan, sebagai sumber segala berkat”
Di akhir renungan ini, izinkan saya bertanya pada Anda sekalian. Saya yakin, ada banyak dari anda yang saat ini, punya banyak persoalan hidup, juga punya banyak harapan dan kerinduan. Jika Tuhan Yesus bertanya kepada Anda secara pribadi : “Apa yang engkau mau sebagai hadiah?” Apakah jawabanmu sama seperti St. Thomas Aquinas: “Non nisi te, Domine.” (Tidak ada selain Engkau, ya Tuhan) ? Mari kita hening sejenak !