Komisi Daerah Lanjut Usia (KOMDA Lansia) Provinsi Nusa Tenggara Timur bekerja sama dengan Bank Indonesia dan PT Kalbe Farma menyelenggarakan kegiatan Edukasi, Literasi, dan Sosialisasi Persiapan Menuju Lansia SMART serta Cinta, Bangga, dan Paham (CBP) Rupiah dan Pelindungan Konsumen di Aula Paroki St. Yoseph Naikoten, Kamis (16/7/2026), pukul 09.00–12.30 WITA.
Kegiatan ini diikuti oleh para lansia Paroki St. Yoseph Naikoten sebagai upaya membekali mereka agar mampu menjalani masa lanjut usia secara sehat, mandiri, produktif, dan bijaksana dalam menghadapi perkembangan dunia keuangan, khususnya di era digital.





Dalam sambutan pembuka, Ketua DPP Paroki St. Yoseph Naikoten, Bpk. Frans Wayan, mengharapkan seluruh peserta mengikuti kegiatan dengan sungguh-sungguh sehingga masa lanjut usia yang sering dipandang sebagai fase yang menakutkan justru dapat dijalani dengan penuh makna, tetap produktif, serta menjadi berkat bagi diri sendiri, keluarga, dan masyarakat.
Materi pertama disampaikan oleh Sekretaris Komisi Daerah Lanjut Usia NTT, Bpk. Sentis Medi, mengenai Persiapan Menuju Lansia SMART.
Beliau memaparkan bahwa berdasarkan data statistik, jumlah penduduk lanjut usia di Indonesia telah mencapai sekitar 11 persen dari total populasi atau sekitar 30 juta jiwa. Di Provinsi Nusa Tenggara Timur, jumlah lansia telah melampaui 11 persen atau lebih dari 500 ribu jiwa, sedangkan di Kota Kupang diperkirakan mencapai sekitar 32 ribu jiwa.











Ia juga menjelaskan bahwa di Provinsi NTT saat ini hanya terdapat dua panti lansia, yaitu di Maumere dan di Kupang yang dikelola Dinas Sosial Provinsi NTT yang secara khusus melayani lansia nonpotensial. Karena itu, KOMDA Lansia NTT lebih memfokuskan pelayanannya kepada lansia potensial agar tetap mandiri, sehat, aktif, dan tidak bergantung pada panti sosial.
Dalam kesempatan tersebut, Bapak Sentis Medi menyampaikan bahwa Paroki St. Yoseph Naikoten menjadi paroki pertama di Kota Kupang yang mendapat sosialisasi dari KOMDA Lansia NTT, sekaligus menjadi langkah awal untuk memperluas edukasi kepada paroki-paroki lainnya.
Ia menegaskan bahwa menjadi Lansia SMART memerlukan persiapan sejak dini melalui empat aspek utama, yaitu menjaga kesehatan fisik dengan pola makan sehat, aktivitas fisik teratur, dan istirahat yang cukup; Membangun kesehatan mental melalui pola pikir positif, kemampuan mengelola stres, serta memperkuat kehidupan spiritual; Menjaga kehidupan sosial dengan tetap aktif dalam organisasi serta menjalin relasi yang harmonis dengan keluarga dan masyarakat; Serta mempersiapkan aspek ekonomi melalui tabungan, jaminan hari tua, dan pengembangan usaha sesuai kemampuan.




Pada sesi berikutnya, narasumber dari Bank Indonesia menyampaikan materi mengenai Cinta, Bangga, dan Paham (CBP) Rupiah serta Pelindungan Konsumen.
Peserta diajak untuk semakin mencintai dan menggunakan Rupiah dengan benar, memahami hak dan kewajiban sebagai konsumen jasa keuangan, mengenali berbagai bentuk penipuan dan kejahatan keuangan yang semakin marak di era digital, serta mengetahui mekanisme pengaduan apabila menemukan penyalahgunaan atau pelanggaran yang dilakukan oleh penyedia jasa keuangan.
Antusiasme peserta terlihat dalam dua sesi tanya jawab yang berlangsung interaktif. Berbagai pertanyaan seputar kesehatan lansia, pengelolaan keuangan, hingga keamanan transaksi digital mendapat tanggapan langsung dari para narasumber. Sesi tanya-jawab diakhiri dengan sebuah testimoni dari Bpk.Matheos More, 85 Tahun, tentang tips dan gaya hidup sehat bagi Lansia.



Kegiatan ditutup oleh Ketua DPP Paroki St. Yoseph Naikoten, Bpk. Frans Wayan, yang menyampaikan apresiasi kepada KOMDA Lansia NTT, PT Kalbe Farma dan Bank Indonesia atas terselenggaranya kegiatan tersebut.
Acara kemudian dilanjutkan dengan sesi foto bersama, pemeriksaan kesehatan bagi para peserta, serta makan siang bersama dalam suasana penuh keakraban.