Paroki St. Yoseph Naikoten Kupang merayakan Hari Raya Santa Perawan Maria Bunda Allah sekaligus Tahun Baru 2026 dengan menggelar dua kali perayaan Ekaristi pada Kamis, 1 Januari 2026. Misa I dilaksanakan pada pukul 07.00 WITA dan Misa II pada pukul 16.30 WITA.









Misa I dipimpin oleh Pastor Paroki, RD Jhon Rusae. Perayaan Ekaristi ini diiringi oleh gabungan Paduan Suara Suster-Suster dan Paduan Suara St. Yoseph Naikoten.
Sejak pagi hari, umat tampak memadati gereja untuk mengikuti perayaan awal tahun dalam suasana doa dan syukur.
Dalam homilinya, RD Jhon Rusae menegaskan makna Gereja menyebut Maria sebagai Bunda Allah. Menurutnya, Maria disebut Bunda Allah karena ia mengandung dan melahirkan Yesus. Yesus adalah Juruselamat, Wajah Allah, Putra Allah, dan Emanuel—Allah beserta kita. Karena Yesus adalah sungguh Allah, maka Maria yang mengandung dan melahirkan Yesus yang adalah Allah beserta kita, layak diberi gelar Bunda Allah.
Lebih lanjut, RD Jhon menjelaskan dua tugas utama Maria. Pertama, Maria sebagai ibu yang mengandung, melahirkan, merawat, dan menemani Yesus hingga akhir hidup-Nya. Kedua, Maria adalah pribadi yang menyimpan dan merenungkan Sabda Tuhan dalam hatinya. Merenungkan, menurut RD Jhon, berarti memikirkan sesuatu secara mendalam.








Maria merenungkan Sabda Allah untuk memahami, menerima, dan mengakui bahwa Anak yang dilahirkannya benar-benar adalah Juruselamat, Kristus, dan Tuhan. Kristus Tuhan senantiasa menjadi pusat perhatian dan pusat inspirasi Maria. Ia menjadikan Kristus sebagai sumber kekuatan dalam setiap cobaan. Dengan merenungkan Sabda Allah, Kristus selalu hadir di dalam hatinya dan menjaga hatinya sehingga Maria menjadi pribadi yang benar di hadapan Allah.
Pada setiap awal tahun, Gereja mengajak umat untuk menghormati Maria karena ia telah mengandung dan melahirkan Kristus. Gereja juga mengajak umat meneladani Maria dengan merenungkan Sabda Tuhan yang adalah Kristus sendiri, agar menjadi pusat kehidupan dan sumber kekuatan. Dengan Sabda Tuhan yang tinggal dalam hati, umat diajak untuk menjadi pribadi yang pantas di hadapan Tuhan.
Dengan meneladani Maria, umat beriman menjadikan Maria sebagai ibu. Gereja, pada awal tahun, mengajarkan bahwa Maria akan menolong dan merawat umat dengan doa-doanya. Umat diajak untuk tidak takut memohon pertolongan dan perlindungan Bunda Maria agar tetap kuat dalam menghadapi berbagai cobaan hidup.
RD Jhon juga mengingatkan bahwa tanggal 1 Januari diperingati sebagai Hari Perdamaian Dunia. Pada tahun 1967, Paus Paulus VI menetapkan tanggal 1 Januari sebagai Hari Perdamaian Dunia dan menegaskan bahwa semua orang dipanggil untuk menciptakan perdamaian. Upaya menciptakan perdamaian itu antara lain diwujudkan dengan berlaku adil—yakni hanya berhak atas diri sendiri—serta mengampuni, termasuk mengampuni musuh.















“Marilah dalam Tahun 2026 ini kita menjadikan Bunda Maria sebagai ibu kita. Kita merenungkan Sabda Allah yang adalah Kristus sendiri agar menjadi pusat hidup kita. Dan marilah kita menjadi pencipta perdamaian,” ajak RD Jhon Rusae menutup homilinya.
Perayaan Misa Hari Raya Maria Bunda Allah ini menjadi pembuka perjalanan iman umat Paroki St. Yoseph Naikoten dalam Tahun 2026.
Selamat Berbahagia Pada Tahun Baru 2026